Apa itu PNEUMONIA? Pneumonia adalah infeksi akut sistem pernapasan bawah yang disebabkan oleh virus, bakteri dan organisme mikro lainnya. Pneumonia pada balita ditandai dengan gejala batuk, nafas cepat, tarikan dinding dadabagian bawah ke dalam, dan gambaran radiologi foto thoraks/dada menunjukkan infiltrasi paru akut. Pneumonia sering tertukar dengan infeksi sluran pernapasan akut atau ISPA walau sebenarnya berbeda.

Hal ini bisa menimbulkan beberapa gejala seperti sesak, nafas tidak enak, dan batuk. "Gejala lainnya yaitu demam 39 derajat, nyeri dada, dan batuk tidak berhenti. Kondisi ini jika tidak segera ditangani akan memicu kematian," menurut Direktur Kesehatan Keluarga, Direktorat Jenderal Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, Erna Mulati, dalam acara STOP Pneumonia, di kawasan Kota, Jakarta, Minggu 18 Agustus 2019.

Erna juga menambahkan, kondisi pneumonia ini seringnya disebut dengan paru-paru basah di masyarakat. Faktor penyebabnya bisa banyak hal termasuk asap rokok dan polusi udara.

"Lain halnya dengan TBC, di mana penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri tuberkulosis," kata Erna.

Akhir-akhir ini polusi udara juga semakin memburuk dengan angka Air Quality Index (AQI) mencapai lebih dari 200. Padahal, angka AQI yang disarankan untuk menjaga kesehatan paru-paru yaitu di bawah 100.

Faktanya, polusi udara ini menyebabkan sebagian besar kasus kematian anak pada pengidap pneumonia.

Selain Erna, hadir juga Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular P2PM, Wiendra Waworuntu M.Kes., dalam acara ‘STOP Pneumonia’ di kawasan Kota, Jakarta, Minggu 18 Agustus 2019. dia mengatakan "Pneumonia penyebab kematian anak nomor 1 di dunia. Kalau di Indonesia, penyebab kematian nomor 2 setelah diare,".

Harus dipahami bahwa anak-anak sangat rentan terhadap pajanan lingkungan. karena, anak-anak bernapas lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa sehingga mereka akan menghirup lebih banyak polusi per kilogram berat badan dari udara berkualitas buruk.

Perlu dipahami, bahwa anak berada dalam periode penting perkembangan sehingga penularan racun dapat menyebabkan efek negatif. Anak juga mempunyai kebiasaan menjelajah dan beraktivitas di luar ruangan sehingga tergolong populasi yang rentan menghirup atau terpapar polusi udara.

Pengendalian pneumonia seperti yang tertuang dalam Global Action Plan for Pneumonia and Diarrhea

(GAPPD) terdiri dari: perlindungan, pencegahan dan pengobatan.

Perlindungan: melindungi anak dengan menerapkan praktek kesehatan yang baik sejak lahir melalui

Pemberian: air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, nutrisi yang mencukupi dan suplemen vitamin A.

Pencegahan: mencegah anak-anak menjadi sakit pneumonia dan diare dengan: pemberian imunisasi pneumococcal conjugate vaccines (PCVs) disertai imunisasi pertussis, campak, HiB dan rotavirus memastikan ketersediaan air minum dan sanitasi yang baik, membiasakan mencuci tangan dengan sabun, mengurangi polusi udara rumah tangga dan luar rumah; mencegah infeksi dari HIV.

Pengobatan: mengobati anak-anak yang menderita pneumonia dan diare dengan pengobatan yang tepat. Hal ini didukung dengan membantu kelancaran pencarian pengobatan dan sistem rujukan antar fasilitas kesehatan, memperbaiki pengelolaan kasus pada tingkat fasilitas kesehatan dan komunitas memastikan ketersediaan oralit, zinc, antibiotik dan oksigen,  melanjutkan pemberian makanan dan ASI, membuka akses kepada fasilitas kesehatan dan asuransi kesehatan yang memadai.